5 Masalah Kesehatan yang Paling Sering Dialami Saat Kerja Depan Komputer

5 Masalah Kesehatan yang Paling Sering Dialami Saat Kerja Depan Komputer

Seharian berada di ruang kerja dan berkutat di komputer bisa memperburuk kesehatan. Efeknya bisa ke-mana-mana, dari pekerjaan yang tidak maksimal hingga penyakit yang menghantui.

Ini lima masalah kesehatan yang paling sering diderita karyawan karena terlalu lama bekerja di depan komputer, seperti dipaparkan Dokter Olahraga di Stanford Health Care Michael Fredericson, dan Stephen Aguilar, terapis dari UCLA Rehabilitation Services, dilansir oleh Fast Company.

1. Sakit Punggung
Duduk selama berjam-jam di depan layar komputer bisa memicu sakit punggung. Entah itu hanya nyeri sesaat atau rasa sakit dan pegal yang terus-menerus, hal tersebut bisa terjadi karena posisi duduk yang terlalu menyender ke belakang maupun membungkuk ke depan. Posisi ini bisa membuat ligamen dan otot punggung menjadi tegang.

Cara mengatasi: Anda bisa gerakkan pinggang ke depan dan ke belakang, miringkan pinggul ke atas, putar punggung Anda, dan terakhir miringkan pinggul Anda kembali. Untuk jangka waktu yang lama, Anda juga bisa menggunakan bantalan di punggung agar tubuh tidak melakukan posisi yang buruk. Hindari kaki yang menggantung dari kursi karena berat kaki yang tidak disokong akan membuat otot punggung semakin tegang.

2. Pergelangan Tangan Keseleo
Menghabiskan waktu dengan mengetik, baik di keyboard maupun di ponsel membuat tendon di pergelangan tangan Anda maju dan mundur. Kegiatan ini bisa memicu kelelahan dan tendon kemudian bisa membengkak. Posisi duduk dengan pundak membungkuk ke depan juga bisa menjadi alasan pergelangan tangan yang sakit.

Cara mengatasi: Lakukan peregangan dengan menempelkan kedua telapak tangan di depan dada. Sambil melakukan itu, turunkan dua tangan Anda yang menempel hingga Anda merasa otot tangan melemas. Lakukan selama 5 detik. Untuk jangka panjang, biasakan mengetik dengan pergelangan tangan yang menggantung horizontal di udara, tidak terlalu tinggi tapi juga tidak bertumpu di atas meja. Anda juga bisa menggunakan bantalan untuk pergelangan tangan dan sesekali beristirahat.

3. Sakit Leher dan Pundak
Selain punggung, leher dan pundak bisa berpengaruh jika seseorang terlalu lama bekerja di depan komputer. Anda mungkin tidak terlalu merasakannya ketika menghadap layar, tetapi rasa nyeri dan pegal bisa tiba-tiba datang ketika Anda menggerakkan leher atau memutar pundak. Layar yang terlalu jauh bisa menyebabkan leher dan pundak terlalu maju ke depan sehingga otot dan jaringan lunak menjadi lebih tegang.

Cara mengatasi: Anda bisa melakukan peregangan kepala dengan menggerakkan dagu Anda ke depan dan belakang secara searah. Lakukan sebanyak empat kali dan dalam posisi duduk yang tegak. Anda juga bisa memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri dengan posisi tangan yang lurus agar peregangan maksimal. Tahan selama 20 hingga 60 detik dan lakukan sebanyak empat kali. Kemudian, biasakan diri memosisikan komputer sejajar di depan Anda. Memiringkan komputer ke kanan atau kiri bisa memaksakan lehermu untuk melakukan posisi kaku.

4. Mata Tegang
Melihat ke layar komputer dan ponsel terlalu dekat atau jauh dalam waktu lama bisa membuat Anda pusing dan sulit fokus. Orang juga jadi jarang mengedipkan mata di depan layar sehingga mata menjadi kering.

Cara mengatasi: Setiap 20 atau 30 menit sekali Anda perlu melihat ke hal-hal lain di sekitar Anda selama 20 detik agar mata beristirahat. Buat jarak antara komputer dan mata Anda menjadi 50-100 centimeter. Anda juga bisa memberikan filter pada komputer agar mengurangi silau. Untuk yang berkacamata, sempatkan mengukur jarak antara komputer dan kedua mata Anda. Konsultasikan kepada ahli kacamata untuk mengganti lensa yang cocok dengan jarak tersebut.

5. Pinggul Tegang
Seharian duduk di kursi kerja, kursi pengemudi, hingga kursi di rumah sebenarnya memperpendek fleksor pinggul Anda, yaitu sekumpulan otot di bagian depan pinggul. Pendeknya fleksor bisa menyebabkan pinggul sakit dan tegang.

Cara mengatasi: Lakukan peregangan dengan berlutut di lutut kiri dan letakkan kaki kanan ke depan dengan lutut kanan ditekuk pada sudut 90 derajat. Majukan pinggul dengan lutut kanan sembari menekuk lutut dan tarik bokong Anda ke dalam sampai Anda merasakan peregangan untuk pinggul kiri. Tahan selama 30 detik lalu lakukan sebaliknya. Lebih baik lagi apabila Anda berdiri dari kursi dan melakukan peregangan secara keseluruhan dan sirkulasi darah menjadi lebih lancar.

SpaceX Luncurkan Satelit Militer AS Minggu Pagi

SpaceX Luncurkan Satelit Militer AS Minggu Pagi

Akhir pekan ini SpaceX dijadwalkan untuk melakukan misi keamanan nasional pertamanya untuk militer AS dengan mengirimkan sebuah satelit mata-mata ke orbit untuk National Reconnaissance Office.

Dijuluki NROL-76, muatan rahasia itu dijadwalkan menggunakan roket Falcon 9 pada hari Minggu pagi dari Kennedy Space Center di Cape Canaveral, Florida, sebagaimana dikutip The Verge, Sabtu 29 April 2017.

Setelah diluncurkan, SpaceX akan mencoba untuk mendaratkan tahap pertama Falcon 9, bagian inti setinggi 14 tingkat dari roket yang berisi mesin utama dan sebagian besar bahan bakar, di atas landasan yang kokoh di Cape.

Ini akan menjadi upaya yang keempat kalinya bagi SpaceX untuk mencoba mendaratkan Falcon 9 di lokasi pendaratan Florida milik perusahaan tersebut.

Sama seperti peluncuran NRO lainnya, kita tidak terlalu tahu banyak tentang tujuan akhir satelit ini atau penyelidikan apa yang akan dilakukan saat sampai di sana. Dan biasanya, siaran misi NRO dipotong agak pendek untuk menyembunyikan tujuan sebenarnya dari satelit dan ke mana arahnya.

Peluncuran minggu pagi ini diluncurkan dari peluncuran bersejarah SpaceX beberapa minggu yang lalu, di mana perusahaan tersebut menerbangkan salah satu pendorong Falcon 9 yang mendarat untuk pertama kalinya.

Peluncuran itu berhasil menempatkan sebuah satelit ke orbit untuk perusahaan SES yang berbasis di Luksemburg. SpaceX juga bisa menjalankan tahap pertama dengan mendaratkannya di kapal tak berawak di Samudera Atlantik.

Self-Publishing, Cara Mudah Menerbitkan Buku

Self-Publishing, Cara Mudah Menerbitkan Buku

Gara-gara laporan Beban Kinerja Dosen (BKD), Saya kadang berharap bisa membuat buku secara rutin. Minimal satu buku per tahun, syukur-syukur per semester. Harapan yang tidak terlalu muluk, walau tidak mudah digapai, setidaknya perlu “strategi mencuri” waktu dan memilih cara penerbitan yang relatif mudah dan cepat.

Target membuat buku tidak bisa dicapai dengan cara mendadak. Rasanya menulis buku tidak bisa dengan gaya: “kebut semalam”, atau dengan cara: “mengasingkan diri berhari-hari”. Tugas lain dan godaan “ngerumpi”, bahkan siaran langsung sepakbola pun bisa menjadi halangan.

Keterbatasan waktu – atau mungkin rasa malas juga – menyebabkan “proyek membuat buku” ini harus dicicil. Perlahan-lahan. Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. Akhirnya modus seperti ini menjadi pilihannya. Dan media yang digunakannya adalah blog pribadi, baik yang disediakan kampus atau di luar kampus.

Ya, postingan di blog bisa menjadi bahan buku jika sudah terakumulasi dalam beberapa seri tulisan tematik. Maksudnya, beragam kategori postingan bisa kita kumpulkan menjadi sebuah buku. Beberapa buku yang pernah disusun dengan modal “ngeblog” adalah “Electronic Banking”, “Manajemen Dana Bank”, “Banking on The Blog”, dan “New Economy: Ekonomi Era Informasi”.

Buku-buku tersebut lebih banyak diterbitkan di kampus. Hanya satu buku yang diterbitkan di penerbit luar. Menerbitkan buku di institusi sendiri menjadi opsi mudah. Namun tetap saja harus disunting dan membuat disain cover sendiri, atau setidaknya merepotkan teman-teman. Belum pengurusan ISBN-nya. Mengurus sendiri pun perlu waktu. Setidaknya, kita coba variasi cara penerbitan buku.

Akhirnya, sekedar untuk menambah pengalaman, Saya mencoba menerbitkan buku dengan cara: Self-Publishing. Cara ini relatif memberikan kemudahan – minimal bagi Saya –, di antaranya adalah:

Disain Cover dibuatkan oleh Penerbit Indy, setelah kita menyetujui disainnya
Pengurusan ISBN
Penyuntingan naskah oleh penerbit, walau tetap diupayakan dari naskah daro kitanya sudah relatif siap cetak
Bantuan promosi, walau kita bisa bantu juga melalui jejaring sosial atau pertemanan
Proses komunikasi dengan penerbit mudah dan cepat
Bisa memperoleh beberapa eksemplar bukunya
“Tidak ada makan siang gratis”. Demikian pula dengan Self-Publishing. Kita harus mengeluarkan biaya, yang berkisar dari ratusan ribu sampai satu juta rupiah. Tidak mengapa mengeluarkan anggaran sebesar itu per tahun. Toh, bisa disisihkan dari sebagian penghasilan kita, termasuk dari tunjangan sertifikasi dosen. Jika rajin mempromosikannya, siapa tahu nilai royaltinya bisa membuat investasinya bisa “balik modal”.

Bagi saya, soal royalti bukan utama. Kalau toh ada royaltinya, ya patut disyukuri juga 🙂 Saat melihat fisik buku dengan nama kita tercantum jadi penulis pun sudah memberikan kepuasan tersendiri. Bahkan, tak jarang buku tersebut dijadikan hadiah atau kado buat teman-teman.

GoJek Akui Kehabisan Uang gara-gara Tarif Murah

GoJek Akui Kehabisan Uang gara-gara Tarif Murah

Perusahaan ride sharing Gojek kini sedang berdiskusi dengan calon investor baru. Mereka mengaku membutuhkan tambahan dana, seiring dengan besarnya subsidi yang dikeluarkan untuk membuat tarif tetap murah.

Saat ini, Gojek memiliki armada sekitar 200.000 orang pengemudi ojek. Perusahaan tersebut bersaing keras dengan Grab dan Uber demi menguasai pangsa pasar di Indonesia.

Kendati demikian, Gojek tak bisa terus-terusan “membakar” uang alias memberi subsidi agar tarif mereka bisa murah.

“Kalau terus begitu (memberi subsidi), akhirnya Anda akan kehabisan uang,” ujar pendiri sekaligus CEO Gojek Nadiem Makarim, Senin (2/5/2016).

Pria lulusan Harvard Business School itu menambahkan, salah satu solusi masalah tersebut adalah mencari dana tambahan dari para investor. Setelah mendapatkannya, dia akan memakai dana itu untuk mengembangkan lini bisnis.

Saat ini, menurut Nadiem, sudah ada sejumlah perusahaan modal ventura dan perusahaan investasi yang menaruh minat. Perusahaan-perusahaan tersebut tertarik pada Gojek karena ukuran dan potensi yang dimilikinya.

Nadiem tak mengungkap perusahaan mana saja yang kini sedang berdiskusi membicarakan investasi baru itu.

Sekadar diketahui, kehadiran Gojek dan layanan transportasi berbasis aplikasi lain memicu banyak kontroversi. Bahkan pada Maret lalu ribuan pengemudi taksi melakukan unjuk rasa dan meminta sebagian dari aplikasi ride sharing ditutup.

Namun sebesar-besarnya unjuk rasa tersebut tak akan membuat Nadiem sakit kepala. Setidaknya, fokus pemikiran pendiri Gojek itu bukan pada masalah tersebut.

“Buat saya, masalah dan tantangan terbesar saat ini adalah menghitung skala hal ini. Hal yang paling sulit adalah soal teknologi, sebab pemikiran mengenai teknologi-lah yang membuat saya jadi susah tidur,” pungkasnya.