Tak Perlu Meratapi Kesedihan, Sebab Luka Itu Mendewasakan

Tak Perlu Meratapi Kesedihan, Sebab Luka Itu Mendewasakan

Orang-orang bilang memaafkan itu perkara yang mudah, namun melupakan itu bukan perkara yang mudah. Namun ada juga yang mengatakan sebaliknya. Terluka itu suatu perkara yang wajar sebab semua manusia diciptakan punya hati. Setiap orang pasti pernah dilukai maupun melukai walaupun terkadang kita tidak pernah sadar.

Seperti yang kita ketahui, semua yang ada di dunia ini memiliki antonimnya. Ada siang, ada malam. Ada gelap, ada terang. Ada suka, ada duka. Dunia ini berputar, tidak selamanya kita berada di bawah begitu juga di atas. Hidup ini terlalu luas jika kita hanya merasakan satu rasa, dunia ini terlalu indah bila tidak ada masalah yang harus diselesaikan, lantas kapan lagi kita bisa belajar? Tuhan menciptakan dunia yang begitu indah ini untuk kita bersyukur atas segala nikmatnya. Sejatinya, segala yang diberikan Allah itu indah sekali, sangat pantas untuk disyukuri. Apapun itu bentuknya, baik atau buruk kah sifatnya. Karena Allah is the Best Planner. Sudah jelas tertera dalam Q.S Al-Baqarah: (216) bahwa apa yang manusia sukai belum tentu baik bagi manusia dan begitu juga apa yang dianggap buruk bagi manusia belum tentu buruk bagi Allah.

Allah sudah tahu pasti bahwa dilukai seseorang itu sangat menyakitkan. Tapi sadarkah jika kita telah berulang kali menyakiti Allah? Namun Allah tetap menyayangi kita, tetap memberikan apa yang kita usahakan dan kita doakan. Lagi-lagi, Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Ya seperti surah yang disebut di atas tadi, kita tidak tahu pasti apa yang terbaik buat kita.

Self-Publishing, Cara Mudah Menerbitkan Buku

Self-Publishing, Cara Mudah Menerbitkan Buku

Gara-gara laporan Beban Kinerja Dosen (BKD), Saya kadang berharap bisa membuat buku secara rutin. Minimal satu buku per tahun, syukur-syukur per semester. Harapan yang tidak terlalu muluk, walau tidak mudah digapai, setidaknya perlu “strategi mencuri” waktu dan memilih cara penerbitan yang relatif mudah dan cepat.

Target membuat buku tidak bisa dicapai dengan cara mendadak. Rasanya menulis buku tidak bisa dengan gaya: “kebut semalam”, atau dengan cara: “mengasingkan diri berhari-hari”. Tugas lain dan godaan “ngerumpi”, bahkan siaran langsung sepakbola pun bisa menjadi halangan.

Keterbatasan waktu – atau mungkin rasa malas juga – menyebabkan “proyek membuat buku” ini harus dicicil. Perlahan-lahan. Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. Akhirnya modus seperti ini menjadi pilihannya. Dan media yang digunakannya adalah blog pribadi, baik yang disediakan kampus atau di luar kampus.

Ya, postingan di blog bisa menjadi bahan buku jika sudah terakumulasi dalam beberapa seri tulisan tematik. Maksudnya, beragam kategori postingan bisa kita kumpulkan menjadi sebuah buku. Beberapa buku yang pernah disusun dengan modal “ngeblog” adalah “Electronic Banking”, “Manajemen Dana Bank”, “Banking on The Blog”, dan “New Economy: Ekonomi Era Informasi”.

Buku-buku tersebut lebih banyak diterbitkan di kampus. Hanya satu buku yang diterbitkan di penerbit luar. Menerbitkan buku di institusi sendiri menjadi opsi mudah. Namun tetap saja harus disunting dan membuat disain cover sendiri, atau setidaknya merepotkan teman-teman. Belum pengurusan ISBN-nya. Mengurus sendiri pun perlu waktu. Setidaknya, kita coba variasi cara penerbitan buku.

Akhirnya, sekedar untuk menambah pengalaman, Saya mencoba menerbitkan buku dengan cara: Self-Publishing. Cara ini relatif memberikan kemudahan – minimal bagi Saya –, di antaranya adalah:

Disain Cover dibuatkan oleh Penerbit Indy, setelah kita menyetujui disainnya
Pengurusan ISBN
Penyuntingan naskah oleh penerbit, walau tetap diupayakan dari naskah daro kitanya sudah relatif siap cetak
Bantuan promosi, walau kita bisa bantu juga melalui jejaring sosial atau pertemanan
Proses komunikasi dengan penerbit mudah dan cepat
Bisa memperoleh beberapa eksemplar bukunya
“Tidak ada makan siang gratis”. Demikian pula dengan Self-Publishing. Kita harus mengeluarkan biaya, yang berkisar dari ratusan ribu sampai satu juta rupiah. Tidak mengapa mengeluarkan anggaran sebesar itu per tahun. Toh, bisa disisihkan dari sebagian penghasilan kita, termasuk dari tunjangan sertifikasi dosen. Jika rajin mempromosikannya, siapa tahu nilai royaltinya bisa membuat investasinya bisa “balik modal”.

Bagi saya, soal royalti bukan utama. Kalau toh ada royaltinya, ya patut disyukuri juga 🙂 Saat melihat fisik buku dengan nama kita tercantum jadi penulis pun sudah memberikan kepuasan tersendiri. Bahkan, tak jarang buku tersebut dijadikan hadiah atau kado buat teman-teman.